Dariprasasti Kedukan Bukit, kita mendapatkan data-data: 1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682). Tidak ada keterangan dari mana naik perahu dan mau ke mana. 2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara.
KERAJAANMATARAM BERPUSAT DI JAWA TIMUR. A. WANGSA ISANA Cakalbakal Wangsa Isana . Istilah wangsa isana terdapat dalam prasasti Pucangan yang di keluarkan oleh raja Airlangga yang isinya mengenai silsilah raja Airlangga, mulai dari raja Sri Isanatungga atau Pu Sindok pada tahun 963 Saka (1041).. Dengan adanya kerajaan baru, yang ingin di bangun oleh Pu Sindok maka dibangun pula wangsa yang baru.
KemaharajaanSriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing.Dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang.Bahwa beliau berangkat dalam perjalanan suci siddhayatra untuk "mengalap berkah",Template:Efn dan memimpin 20.000 tentara dan 312 orang di kapal dengan 1.312 prajurit berjalan kaki dari Minanga Tamwan menuju Jambi dan
Selainprasasti, sumber tertulis tentang Sriwijaja juga didapatkan dikirimkan oleh Sriwijaya pada 1003 (Slamet, 1996 :271-272). Pada 1008 Raja Se-li-ma-la-pi (Sri Marawi, yaitu Marawijaya) mengirimkan Dalam pengamatan I-Tsing yang kemudian ditulis dalam berita Tiongkok, saat itu di Sriwijaya terdapat sekitar 1.000 orang pendeta
. Tonggak-tonggak kayu sisa dermaga pelabuhan Kota Kapur di tepi sungai Menduk, Bangka. Dok. Puslit Arkenas. Sebagian besar prasasti kutukan yang dikeluarkan penguasa Sriwijaya ditempatkan di daerah strategis dari sisi ekonomi. Tujuannya untuk mengikat masyarakat agar tak memberontak dan patuh terhadap perintah raja. Beberapa prasasti kutukan yang ditemukan di Palembang yaitu Prasasti Bom Baru, dan Prasasti Telaga Batu. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka dan Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sedangkan Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung. Menurut Sondang M. Siregar, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam “Prasasti-Prasasti Kutukan dari Masa Sriwijaya”, termuat di Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna, kata “kutuk” dan “semoga” berkat sering tertulis di prasasti-prasasti itu. Kutukan ini merupakan pesan penting dari pembuat prasasti kepada masyarakat di lokasi prasasti ditempatkan. “Mungkin di daerah itu terdapat permasalahan sehingga prasasti kutukan harus dibuat,” tulis Sondang. “Banyaknya prasasti Sriwijaya yang berisikan kutukan dan diletakkan di berbagai tempat mengindikasikan adanya masalah pada masa Sriwijaya.” Palembang, contohnya, pada mulanya menjadi lokasi transit kapal-kapal dari dalam dan luar negeri karena letaknya strategis. Ia menjadi persinggahan kapal-kapal yang masuk dari Selat Bangka menuju perairan Sungai Musi. Selanjutnya, Palembang menjadi daerah perdagangan, pusat kesenian, dan agama. Prasasti Telaga Batu menyebutkan para pejabat di Kerajaan Sriwijaya. “Ini mengindikasikan pusat pemerintahan Sriwijaya pernah berada di sekitar Prasasti Telaga Batu,” tulis Sondang. Filolog asal Belanda, de Casparis, menulis dalam Prasasti Indonesia bahwa orang-orang yang disebut pada prasasti itu adalah mereka yang dikategorikan berbahaya. Mereka dianggap berpotensi melawan Kedatuan Sriwijaya. Karenanya mereka perlu disumpah. Sejarawan Jerman, Hermann Kulke, dalam “Kadatuan Srivijaya-Imperium atau Keraton Sriwijaya?” yang termuat di Kedatuan Sriwijaya, menjelaskan sebagaimana tertulis dalam prasasti, orang-orang berbahaya di kedatuan ini bukan saja para pangeran dan komandan tentara yang dapat menggalang pemberontakan ketika mereka jauh dari pusat. Tetapi juga sejumlah abdi rendahan yang mudah menjangkau raja, seperti juru tulis, tukang cuci, budak, pelaut, dan pedagang, bisa sangat berbahaya. “Maksud Prasasti Sabokingking adalah memberikan ancaman sebesar-besarnya kepada semua lawan, dan bukan melegitimasi klaim Sriwijaya untuk memerintah mereka,” tulis Kulke. Prasasti Sabokingking adalah nama lain dari Prasasti Telaga Batu. Prasasti kutukan juga ditemukan di Boombaru, daerah yang dekat dengan Sungai Musi. Menurut Sondang, prasasti kutukan diletakkan di sana agar penguasa bisa mengontrol dan mengawasi aktivitas perdagangan dari daratan menuju sungai atau sebaliknya. “Mengawasi masyarakat yang berkhianat atau pemberontak yang hendak masuk ke Sriwijaya melalui Sungai Musi,” tulis Sondang. Prasasti Kota Kapur ditempatkan di daerah paling strategis, Pulau Bangka. Lokasi itu berada di jalur pelayaran internasional. Pulau Bangka menjadi lokasi transit kapal-kapal lokal maupun luar negeri. “Kapal-kapal yang datang dan pulang pasti melalui Selat Bangka,” tulis Sondang. Prasasti Kota Kapur juga menunjukkan bahwa lokasi itu pernah diduduki oleh Kerajaan Sriwijaya dengan tujuan mengawasi atau mengontrol kegiatan perdagangan di pantai timur Sumatra. Prasasti Karang Berahi, prasasti kutukan di Jambi. Dok. Kemendikbud. Situs Karang Berahi berada di tepian Sungai Merangin, Jambi. Sungai ini dapat dilayari kapal untuk mengangkut hasil bumi dari wilayah sekitarnya, seperti rotan, manau, getah, damar, jenang, dan damar. Situs itu berdekatan dengan situs Buddhis, yaitu Tingkip dan Bingin Jungut. Menurut Sondang, sungai yang mengalir di ketiga lokasi ini mengandung bijih-bijih emas. “Penguasa Sriwijaya menempatkan prasasti kutukan di Desa Karangberahi untuk mengawasi perdagangan di Perairan Sungai Musi dan Batanghari,” tulis Sondang. Baca juga Membantah Sriwijaya Fiktif Kemudian Prasasti Palas Pasemah dan Jabung di daerah Lampung. Tempat ditemukannya prasasti itu berada di aliran Sungai Sekampung. Keduanya merupakan kecamatan yang berdekatan. Palas Pasemah ada di sisi selatan Jabung. Keduanya adalah daerah subur dan punya hasil perkebunan. “Keberadaan prasasti kutukan di dua daerah ini menunjukkan bahwa daerah ini potensial,” tulis Sondang. Penguasaan dua daerah ini diperkirakan untuk mengawasi atau mengontrol kegiatan perdagangan di bagian selatan Pulau Sumatra. Pun untuk mengawasi jalur perdagangan di Selat Sunda. Arkeolog Universitas Indonesia, Ninie Susanti, menjelaskan, untuk menancapkan hegemoninya, Sriwijaya mengeluarkan enam prasasti kutukan. Isinya adalah ancaman bagi mereka yang berani melawan raja. Baca juga Tiga Faktor yang Membuat Sriwijaya Jadi Kerajaan Kuat Kekuatan Sriwijaya terlihat dari mandala-mandala yang mengakui kedaulatannya, yaitu Kota Kapur, Jambi, Lampung, dan Baturaja. Mandala-mandala yang mengakui kedaulatan Sriwijaya itu bersatu karena memiliki kepentingan yang sama. “Kepentingan utamanya, yaitu berdagang, menjadi konsensus bersama di antara masyarakat sipil yang ada di wilayah Kedatuan Sriwijaya,” kata Ninie. Menurut Ninie, tokoh intelektual pembentukan pemerintahan maritim adalah para datu pemimpin mandala, red. yang mempunyai kepentingan bersama dengan Sriwijaya. Ini yang kemudian muncul dalam Prasasti Karang Berahi, Kota Kapur 1 dan 2, Baturaja, Palas Pasemah, dan Bom Baru. Kalimat kutukan atau sapatha, menurut arkeolog Universitas Gadjah Mada, Tjahjono Prasodjo, merupakan cara agar semua orang patuh pada keputusan penguasa. Sanksi yang dipilih ini lebih bersifat sakral kedewaan, bukannya sanksi atau denda sebagaimana masa sekarang. “Saya kira pada zamannya, ketika orang sangat percaya dengan kekuatan kutukan, itu adalah cara yang paling efektif untuk mengamankan dan melindungi kelangsungan sebuah penetapan atau piagam,” ujar Tjahjono. Menurut Danang Indra Prayudha dalam “Pengertian Pranantika dalam Sapatha Tinjauan Prasasti Tuhanaru”, temuat di Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna, bentuk-bentuk hukuman atau malapetaka dalam sapatha secara psikologis akan menimbulkan rasa takut atau kengerian bagi masyarakat. Dampak rasa takut yang muncul itulah yang digunakan agar masyarakat menghindari perbuatan yang dilarang. Sebagaimana pula yang dicatat dalam Prasasti Telaga Batu atau Sabokingking "Kedamaian abadi akan menjadi buah yang dihasilkan kutukan ini."
- Prasasti Tanjore adalah peninggalan bersejarah dari abad ke-11 yang ditemukan di India. Prasati berangka tahun 1030 ini dibuat oleh Rajendra Chola I, raja yang memimpin Kerajaan Chola di India Selatan. Kerajaan Chola dikenal sebagai salah satu kerajaan dengan masa pemerintahan terlama, yakni hingga hampir tahun 300 SM-1279.Selain memuat informasi tentang Kerajaan Chola, Prasasti Tanjore menceritakan penaklukan Kerajaan Sriwijaya oleh Kerajaan Chola. Baca juga Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Isi Prasasti Tanjore Prasasti Tanjore berisi tentang beberapa informasi, mulai dari raja-raja Kerajaan Chola dan peristiwa Rajendra Chola I naik itu, kisah penaklukan Kerajaan Sriwijaya oleh Kerajaan Chola juga tertulis pada prasasti. Kerajaan Sriwijaya, yang dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar di Nusantara pada masa itu, runtuh akibat serangan dari Dinasti Chola di bawah pimpinan Rajendra Chola I. Pada Prasasti Tanjore juga dituliskan negeri-negeri di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang diserang oleh Kerajaan Cola, di antaranya Melayu Panai Mayuradingan Semenanjung Malaya Ilangosagam Langkasuka Mappapalam, Papphaal, di Myanmar Mevilimbangan Karmaranga atau Kamalanka di Thailand Selatan Valaippanaduru Pandurang, di Champa Talaittakkolam Takkola dari Ptolemy dan Milindapandha, di Tanah Genting Kra Madalingam Tambralinga di Thailand Selatan Ilamuridesam Lamuri di Sumatera Utara Kadaram Kedah Mavimbangam Filipina Baca juga Peran Sriwijaya dan Majapahit dalam Integrasi Antarpulau Penaklukan Kerajaan Sriwijaya Pada abad ke-11, Kerajaan Chola dari India menyerang Kerajaan Sriwijaya yang terletak di tepian Sungai Musi, di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Padahal sebelumnya, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Chola berhubungan baik sejak abad ke-9.
Prasasti Kota Kapur koleksi Museum Nasional Dok. Kemendikbud. “…Jika pada saat mana pun di seluruh wilayah kerajaan ini ada orang yang berkhianat, bersekutu dengan pengkhianat, menegur pengkhianat atau ditegur oleh pengkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak mau tunduk, dan tak mau berbakti, tak setia kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian itu akan termakan sumpah. Kepada mereka, akan segera dikirim tentara atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas!” Begitu sejarawan Slamet Muljana dalam Sriwijaya menerjemahkan sebagian kalimat kutukan yang ada dalam Prasasti Kota Kapur. Prasasti Kota Kapur adalah satu dari enam prasasti kutukan Kedatuan Sriwijaya yang sejauh ini sudah ditemukan. Prasasti ini berasal dari 686 M. Ada beberapa hal yang bisa diketahui lewat prasasti itu. Ini terutama yang berkaitan dengan ekspedisi militer Sriwijaya. Pertama, pendapat Slamet Muljana bahwa Prasasti Kota Kapur menunjukkan hubungan antara Sriwijaya dan Pulau Jawa. Pada 686 M, Sriwijaya berusaha menundukkan Pulau Jawa. Sayangnya, kerajaan mana yang akan ditundukkan tak diketahui pasti. Nama kerajaannya tak disebut. Yang dinyatakan pada Prasasti Kota Kapur hanyalah bhumi Jawa. “Tentara Sriwijaya berangkat ke Jawa pada hari pertama bulan terang bulan Waisaka 608 Saka. Piagam persumpahan Sriwijaya adalah follow up operasi militer Sriwijaya,” tulisnya. Baca juga Tiga Faktor yang Membuat Sriwijaya Jadi Kerajaan Kuat Kedua, pendapat Nicholaas Johannes Krom, peneliti sejarah awal Indonesia asal Belanda, bahwa prasasti ini merupakan pernyataan pemilikian atas wilayah baru. Karena Prasasti Kota Kapur ini ditemukan di Pulau Bangka, di sebelah utara Sungai Menduk, artinya pada 686 M, Pulau Bangka sudah ditaklukkan. “Sampai ke mana ekspansi itu pada akhir abad ke-7? Hal ini ditunjukkan justru dengan adanya prasasti-prasasti tadi,” tulis George Coedes, arkeolog asal Prancis, dalam Kedatuan Sriwijaya Penyebutan bhumi Jawa dalam prasasti itu menimbulkan berbagai tafisran. Bagi Kern dan Blagden, bhumi Java berarti Jawa atau Sumatra. Sementara Rouffaer memilih Jawa. Namun, Krom lebih melihatnya sebagai Pulau Bangka atau bagian Nusantara yang kemudian oleh bangsa Arab dinamakan negeri Zabaj. “Sebab, jika yang dimaksud Pulau Jawa, maka tak masuk akal mengapa ekspedisi yang dilancarkan untuk menyerbu bhumi Java disebut dalam prasasti yang ditemukan di Bangka,” kata Krom, sebagaimana dikutip Coedes. Coedes lebih sepakat pada penafsiran bhumi Java harus dicari di luar Bangka. Itu tiada alasan untuk tidak mengidentifikasikannya sebagai negeri yang sudah selama-lamanya bernama Jawa. “Jika dalam sejarah Jawa benar-benar ada kurun waktu sebagian Pulau Jawa diserang oleh Sriwijaya, maka mungkin asal mulanya harus dicari pada ekspedisi 686 itu,” tulis Coedes. Karenanya, bisa disimpulkan, prasasti itu tak menyebut perebutan wilayah sesudah perang. Prasasti Kota Kapur hanya memberitakan, pemahatannya terjadi pada saat balatentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi Java yang tak takluk pada Sriwijaya. “Jelaslah ekspedisi itu disebut sebagai contoh agar penduduk tempat prasasti itu didirikan, yaitu di Pulau Bangka, berpikir dulu kalau-kalau ada niat untuk memberontak terhadap kekuatan Sriwijaya,” kata Coedes. Itu sebagaimana yang bisa ditafsirkan dari penutup prasasti. Kalimatnya, bahwa pada waktu prasasti itu dikeluarkan, tentara Sriwijaya berangkat ke bhumi Java. Alasannya, kata Slamet Muljana, karena Pulau Jawa tidak berbakti kepada Sriwijaya. Ceritanya, keberangkatan tentara Sriwijaya ke Jawa berakibat berkurangnya kekuatan pertahanan dalam negeri. Raja Dapunta Hyang yang ketika itu berkuasa pun takut kalau-kalau timbul pemberontakan di wilayah Sriwijaya sebagai usaha untuk memperoleh kemerdekaan mereka kembali atau sebagai balas dendam terhadap Sriwijaya. “Pemberontakan yang mungkin timbul adalah pemberontakan di negeri bawahan,” catat Slamet Muljana. Sebagai Kedatuan, Sriwijaya terdiri dari wilayah-wilayah yang dipimpin oleh datu. Mereka ini masuk ke wilayah Sriwijaya setelah mengakui kedaulatan Sriwijaya, yaitu Kedah, Ligor, Semenanjung Melayu, Kota Kapur, Jambi, Lamoung, dan Baturaja. “Kedatuan dari kata datu atau orang yang dituakan. Dalam prasastinya tidak pernah menyebutnya sebagai kerajaan,” kata Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia. Menurutnya, prasasti-prasasti semacam ini adalah salah satu cara Sriwijaya untuk menancapkan hegemoninya, “Isinya adalah ancaman bagi mereka yang berani melawan raja. Ini sebagai bukti bagaimana ia Sriwijaya, red. diakui,” ujar Ninie lagi.
Bagi kalian yang sedang berada di Jambi dan berminat untuk melakukan wisata sejarah, terdapat sebuah prasasti yang berlokasi Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi bernama Prasasti Karang Berahi. Secara astronomis prasasti ini berada pada koordinat 02º03’ LS dan 102º28’ BT. Sumber Gambar Untuk mecapai lokasi prasasti ini tidaklah sulit karena di jalan raya terdapat papan petunjuk yang akan cukup jelas mengarahkan menuju Kabupaten Merangin hingga sampai di persimpangan jalan yang di bawahnya mengalir Sungai Batang Merangin. Di persimpangan tersebut perjalanan akan dilanjutkan menuju lorong kecil yang tidak jauh dari Masjid Al-Muttaqin. Perjalanan menuju lokasi prasasti akan melewati jalan setapak dan jembatan gantung di atas Sungai Batang Merangin. Jembatan ini beralas kayu dan akan sedikit menguji adrenali karena jembatan ini tidak memiliki pegangan dan akan bergoyang seriring dengan langkah orang-orang yang melewatinnya. Di ujung jembatan akan ada papan penunjuk ke arah kiri bertuliskan “Batu Bertulis”. Meskipun dikelilingin oleh rumah-rumah warga, keadaan dari Situs Prasasti Karang Berahi cukup terawat. Situs ini juga dilengkapi dengan terjemahan isi prasasti dalam Bahasa Indonesia yang merupakan hasil karya dari sejumlah mahasiswa yang dulu pernah melakukan KKN di desa tersebut. Sumber Gambar Prasasti Karang Berahi merupakan prasasti yang berasal dari zaman Kerajaan Sriwijaya. Sesuai dengan namanya, prasasti ini ditemukan pada tahun 1904 oleh Kontrolir Berkhout di Kampung Berahi, Batang Merangin. Prasasti Karang Berahi tidak memiliki tahun tertulis, namun dari identifikasi aksara yang digunakan Huruf Pallawa dengan Bahasa Melayu Kuno para peneliti memprediksi bahwa prasasti ini dibuat sekitar tahun 680-an yakni sekitar akhir abad ke-7 Masehi. Prasasti Karang Berahi terbuat dari batu yang berukuran sekitar 90x90x10 cm. Kondisi dari prasasti ini tidak sepenuhnya utuh karena bagian bawahnya telah patah dan membuat bentuknya menjadi seperti separuh telur. Sumber Gambar Prasasti ini menceritakan tentang sumpah dan kutukan bagi orang jahat yang berani melawan kedaulatan Raja Sriwijaya dan memilih tunduk kepada orang-orang yang berbuat jahat. Dalam prasasti ini diceritakan juga balasan yang akan diterima bagi para penentang raja. Serta, bagi setiap orang yang takhluk dan setia kepada raja akan diberikan berkat kesehatan, kesejahteraan, dan bebas dari bencana di seluruh negeri. Sumpah dan kutukan dari prasasti ini ditujukan kepada musuh di dalam negeri. Namun karena tidak dapat dipastikan secara jelas luas wilayah kekuasaan dari Kerajaan Sriwijaya, musuh dalam negeri yang dimaksud menjadi sulit untuk dijelaskan secara lebih lanjut. Diperkirakan pembuatan prasasti ini berkaitan dengan pengibaran bendera Sriwijaya atas suatu daerah kekuasaan baru Sriwijaya dikarenakan isi kutukan dari prasasti Karang Brahi mirip dengan yang tertulis di Prasati Kota Kapur dan Prasasti Telaga Batu yang ditemukan di Bangka dan di Palembang. Penaklukan Jambi oleh Sriwijaya sendiri telah terbukti dari pernyataan I-tsing tahun 685 Masehi saat pulang dari India dan mengatakan bahwa Jambi Kerajaan Melayu sudah menjadi bagian dari Sriwijaya. Sumber Gambar Prasasti Karang Berahi adalah satu-satunya prasasti yang di temukan di daerah Jambi. Jambi sendiri merupakan salah satu lokasi strategis yang penting bagi Sriwijaya untuk menguasai jalur pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka. Penaklukkan wilayah Jambi menjadi sangat penting bagi Kerajaan Sriwijaya untuk mencapai tujuannya menjadi kerajaan yang berkuasa di lautan. Menurut penuturan masyarakat sekitar, dahulu Kerajaan Sriwijaya hanya mampu bertahan sampai Merangin dan gagal memasuki Kerinci kerena kalah perang setelah sebelumnya harus berjuang melawan ganasnya binatang buas di hutan Kerinci. Di dekat lokasi prasasti kira-kira sekitar 400 meter terdapat sebuah danau yang juga bisa dikunjungi. Danau ini bernama Dam Tamalan. Dam Tamalam memang tidak terlalu dalam, hanya saja permukaan airnya yang tenang menjadikannya seperti cermin raksasa yang membentuk bayangan dari pepohonan yang berada tepat di atasnya. Papan sejarah yang terletak di sana menuturkan bahwa Tamalam berasal dari Bahasa Melayu yang berarti bermalam’. Di zaman dahulu, masyarakat desa sering menggunakan tepian danau ini sebagai tempat bermalam jika bepergian ke tempat lain, dan dari situlah nama terebut berasal.
berita tentang penaklukan jambi oleh sriwijaya tertulis dalam prasasti